Pages

Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Juni 2012

NASIHAT-NASIHAT HIDUP DARI SAHABAT DAN AHLI HIKMAH

Renungan. Wahai saudaraku marilah kita renungkan nasihat-nasihat hikmah dari beberapa sahabat yang memberikan kita pembelajaran hidup yang luar biasa.

Dua Nasihat Abu Bakar Assyibli:
  1. Jika hatimu ingin merasa tenang dan tentram dengan Allah, maka janganlah kau turuti kesengan hawa nafsumu
  2. Jika engkau ingin dikasihani Allah SWT, maka kasihanilah mahkluk Allah
Tiga Nasihat Umar Ibnu Khatab ra:
  1. Bersikap simpatik dengan orang lain adalah bagian dari kecerdasan akal
  2. Bertanya dengan baik adalah bagian dari ilmu
  3. Kepandaian mengatur adalah bagian dari penghidupan

Tiga Nasihat Ali bin Abi Thalib ra:
  1. Dari sekian banyak nikmat dunia, cukuplah Islam sebagai nikmatku
  2. Dari sekian banyak kesibukan, cukuplah ketaatan sebagai kesibukan bagiku
  3. Dari sekian banyak pelajaran, cukuplah kematian sebagai pelajaran bagimu.
Tiga Nasihat Sahabat Ibnu Mas'ud ra:
  1.  Betapa banyak manusia yang diberikan hukuman secara berangsur-angsur melalui kesenangan yang diberikan kepadanya
  2. Betapa banyak manusia yang mendapatkan cobaan melalui pujian kepadanya
  3. Betapa banyak manusia yang terperdaya karena kelemahannya disembunyikan Allah SWT
Wallahu A'lam Bissawab...
Semoga bermanfaat !!!

Kamis, 17 Mei 2012

GOLONGAN YANG MASUK SURGA SEBELUM HISAB

Renungan. Amr bin Ash menceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda,"Apabila Allah telah mengumpulkan semua makhluknya,maka akan ada seruan,"Siapakah orang yang ahli keutamaan?"

Lalu banyak orang yang berdiri dan memasuki surga. Di tengah jalan mereka bertemu dengan malaikat dan di tanya,"Siapa kalian sehingga tergesa-gesa masuk surga?" Mereka menjawab,"Kami adalah ahli keutamaan".

"Apakah keutamaan kalian?" Mereka menjawab,"Apabila kami dianiaya kami bersabar dan jika ada orang yang berbuat buruk pada kami,maka kami memaafkannya." Malaikat berkata,"Masuklah kalian ke surga, sebaik-baik balasan bagi orang yang soleh."

Lalu diserukan lagi,"Siapakah ahli kesabaran?". Lalu banyak orang yang berdiri dan menuju ke surga. Di tengah jalan mereka bertemu para malaikat. Para malaikat bertanya,"Siapakah kalian sehingga tergesa-gesa masuk surga?". Mereka menjawab," Kami adalah ahli kesabaran".

"Bagaimana kesabaran kalian?". Mereka menjawab," Kami bersabar atas musibah yang diberikan Allah". Maka malaikat berkata," Masuklah kalian ke surga".

Lalu terdengar seruan lagi,"Di manakah orang-orang yang mencintai karena Allah?" Lalu banyak yang berdiri dan menuju surga. Di tengah jalan mereka bertemu malaikat dan bertanya,"Siapakah kalian sehingga tergesa-gesa masuk surga?"

"Kami adalah orang-orang yang mencintai karena Allah dan saling memberi karena Allah". Maka malaikat berkata," Masuklah kalian ke surga."

Nabi Muhammad SAW bersabda,"Diletakkannya timbangan untuk menghisab amal manusia setelah golongan-golongan ini masuk surga". Wallahu A'lam Bisshawab

Semoga bermanfaat !!!


Rabu, 25 April 2012

KETIKA ORANG BERALASAN MENINGGALKAN IBADAH

Renungan. Pada hari kiamat akan dihadapkan empat golongan manusia yang meninggalkan ibadah ketika di dunia dengan berbagai macam alasan. Golongan pertama adalah orang kaya. Ketika orang kaya dihadapkan kepada Allah SWT, maka mereka beralasan,"Yaa Allah, hartaku telah menyibukkanku dari beribadah kepada-Mu."
 
Allah SWT bertanya,"Apakah kamu lebih kaya dari Sulaiman?Ia adalah orang paling kaya di dunia, namun ia tidak pernah lalai beribadah kepadaku".

Golongan kedua adalah hamba sahaya, maka mereka beralasan,"Yaa Allah, aku di dunia hanyalah seorang hamba sahaya dan majikanku melarangku dari beribadah kepada-Mu". Allah SWT berfirman kepadanya,"Yusuf juga hamba sahaya, tapi selalu beribadah kepadaku".

Lalu Allah SWT bertanya pada golongan ketiga, yaitu orang-orang miskin. Orang miskin berkata," Yaa Allah aku dulu adalah seseorang yang miskin, jadi aku tidak sempat beribadah kepadaMu". Allah bertanya," Apakah kamu atau Isa yang lebih miskin? Ia hanya memiliki seorang ibu, tidak berkerabat dan tidak berharta. Namun, kemiskinannya tidak membuatnya lalai dari beribadah kepada-Ku".

Lalu Allah SWT meminta pertanggungjawaban orang sakit. Orang sakit berkata," Yaa Allah dahulu aku sakit, makanya aku tidak sempat beribadah kepada-Mu". Allah bertanya, "Apakah sakitmu lebih parah dari Ayyub? Ayyub sakit parah untuk sekian, tetapi tidak menghalanginya untuk beribadah kepada-Ku".

Demikianlah saudara-saudaraku, tidak ada alasan bagi kita untuk meninggalkan ibadah kepada Allah SWT dalam kondisi apapun. Namun, tidak jarang diri kita meninggalkan ibadah dengan seenaknya, bahkan tanpa alasan apapun. Wahai..saudaraku, jika orang yang punya alasan saja masih mendapatkan siksa karena meninggalkan ibadah, maka apalagi diri kita yang suka menyepelekan dan meninggalakan kewajiban kita kepada Allah SWT, betapa lebih pedih siksa yang akan kita kita terima. Wallahu A'lam Bissawab.

Semoga bermanfaat !!!

Kamis, 19 April 2012

NASIHAT-NASIHAT AHLI HIKMAH UNTUK PEGANGAN HIDUP


Sahabat Ali bin Abi Thalib Ra saat ditanya mengenai amalan, hari dan bulan yang baik, maka beliau menjawab:
" Amal yang paling baik adalah amal yang diterima oleh Allah SWT, Bulan yang paling baik adalah bulan yang di dalamnya engkau bertobat kepada Allah SWT dengan tobat nasuha, dan Sebaik-baiknya hari adalah hari di saat engkau pergi meninggalkan dunia dan kembali kepada Allah SWT dalam keadaan beriman kepada-Nya"

Seorang Ahli Hikmah memberi nasihat dalam bait-bait syairnya:
Tidakkah kaulihat bencana yang ditimpakan oleh masa kepada kita
Menghanyutkan kita dalam permainannya
Baik sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan
Jangan sekali-kali kau tergiur oleh duniawi dan perhiasannya,
Karena dunia bukan tempat kita yang sebenarnya
Banyak beramallah demi kemaslahatan dirimu
Sebelum kematian datang menjemputmu
Janganlah terpedaya oleh teman dan saudara yang banyak kau miliki

Al-Imamul Ghozali menurut sebuah pendapat, menyampaikan pesan-pesannya dalam bait-bait syair berikut:
Jika kau ingin berharta banyak, ucapanmu didengar orang, disenangi semua wanita dan semua laki-laki
Kekayaan datang padamu
Membuat kamu bahagia, disegani, dihormati, lagi berharta banyak, terhindar dari rencana jahat
Baik dari musuh atau teman yang pura-pura memihak padamu
Bacalah "Yaa Hayyu Yaa Qoyyum" sebanyak seribu kali sepanjang malam atau siang
Sesungguhnya nasihatku ini lebih berrharga daripada apa yang berharga 
Amalkanlah dengan tetap, jangan kau tinggalkan
Niscaya engkau akan memperoleh kedudukan yang tertinggi.

Wallahu A'lam Bissawab
Semoga bermanfaat ...!!!

Kamis, 05 April 2012

DUA KERUGIAN AKIBAT MENYIBUKKAN DIRI DENGAN DUNIA

Renungan. Sebagai manusia tentunya kita tidak luput dari yang namanya kebutuhan akan dunia. Tetapi, kebutuhan akan dunia itu jangan sampai membuat kita lalai akan akan adanya akhirat. Agama sendiri mengajarkan kita untuk menyeimbangkan antara dunia dan akhirat. Di zaman sekarang ini banyak manusia yang sibuk mencari dunia tapi lalai dalam mencari bekal akhiratnya.

Seorang penyair berkata:
Wahai orang yang sibuk dengan dunia
sungguh ia telah tertipu oleh panjangnya angan-angan
Atau setelah berada dalam kelalaian hingga ajal mendekatinya
Kematian itu datang tanpa pemberitahuan
Balasan amal perbuatan menanti di alam kubur
Bersabarlah dalam menghadapi kesusahan dunia
Sebab tiada kematian kecuali jika ajalnya.

Rasulullah SAW bersabda:
"Menjauhi kesenangan dunia lebih pahit rasanya dari daripada pahitnya brotowali dan lebih menyakitkan daripada sabetan pedang di medan perang. Tiada seorangpun yang menjauhinya, melainkan akan dianugerahi Allah SWT pahala yang sama seperti yang diberikan Nya kepada para syuhada. Cara menjauhi kesenangan duniawi adalah dengan sedikit makan dan tidak terlalu kenyang serta tidak suka dipuji orang lain. Barang siapa yang suka dipuji orang, berarti dia menyukai dunia dan kesenangannya. Oleh karena itu, barang siapa yang ingin meraih kesenangan yang hakiki hendaklah menjauhi keduniawian dan pujian orang lain"(HR. Dailami)

"Barang siapa menjadikan akhirat sebagai tujuannya maka Allah SWT akan membuat baik semua urusannya, dan menjadikan kekayaan dalam hatinya, dan dunia akan datang dengan mudah. Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka Allah akan mencerai beraikan urusannya, menjadikan kefakiran ada di depan matanya, dan dunia tidak akan datang kepadanya, kecuali sebatas yang telah ditentukan."

Wallahu A'lam Bisshawab...
Semoga Bermnafaat ...!

Jumat, 23 Maret 2012

ENAM RENUNGAN HIDUP UNTUK KITA

Renungan. Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali bertanya Pertama,"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?". Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "Mati".Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan". (QS. Ali Imron:185)

Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua. "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?".
Murid-muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah masa lalu. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?".
Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Semua jawaban itu benar kata ImamGhozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "Nafsu".
"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai". (QS. Al A'raf:179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.
 
Pertanyaan keempat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?".
Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawaban benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah "memegang Amanah" .
"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh," (QS. Al Ahzab:72). Tumbuh-tumbuhan, binatang,gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.

Pertanyaan yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini?".
Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan Solat. Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan sholat, gara-gara meeting kita tinggalkan solat.

Lantas pertanyaan ke enam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?".
Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang... Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah "lidah manusia". Karena melalui lidah, Manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.
 
Semoga bermanfaat ...!

MENGAPA DO'A KITA TIDAK DIKABULKAN???

Renungan. Firman Allah s.w.t dalam Surah Al-Baqarah, ayat ayat 186: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran."

Agama kita mengajarkan kita agar senantiasa berdoa kepada Allah. Allah memiliki segalanya. Setiap sesuatu terjadi atas izin dan kehendakNya. Maka kita dianjurkan agar meminta kepada Allah segala sesuatu yang baik, untuk kehidupan kita di dunia ini dan kehidupan kita di akhirat kelak. Hanya orang-orang yang sombong yang tidak mau dan malas berdoa, meminta kepada Allah.
 
Allah SWT  mendengar segala permintaan kita. Apa saja yang kita minta pasti akan didengarNya. Dan orang-orang Islam apabila berdoa insyaAllah akan dikabulkan oleh Allah, apalagi kalau orang itu beriman dan melakukan banyak amal soleh. Akan tetapi sudah menjadi sunnatullah, bahwa ada doa yang Allah kabulkan dengan cepat, ada doa yang Allah tidak kabulkan dan ada doa yang Allah simpan untuk hari kiamat nanti atau untuk mengganti kesusahan yang akan mengenai diri kita. Dalam sebuah hadist riwayat imam Ahmad dari Abu Said al-Khudri Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tidak ada orang muslim yang berdoa meminta kepada Allah s.w.t. dengan doa, dimana didalamnya tidak ada dosa dan ia tidak memutuskan tali silaturrahmi, kecuali Allah akan memberinya antara tiga perkara: Pertama Allah menangguhkan permintannya untuk yang akan datang; kedua: Allah menyimpannya untuk kesempatan lain, dan; ketiga: Allah mengalihkan darinya kejelekan dan malapetaka yang mirip dengan permintannya"
 
Dalam riwayat Aisyah r.a. berkata: "Tidak ada seorang muslim yang berdo'a kepada Allah meminta sesuatu kemudian tidak muncul, kecuali Allah menangguhkannya untuk kesempatan lain di dunia, atau Allah menangguhkannya hingga hari kiamat nanti, kecuali ia tergesa-gesa dan putus asa". Lalu Urwah bertanya:"Wahai Ummul Mukminin, bagaimana ia tergesa-gesa dan putus asa?" Aisyah menjawab:" Misalnya ia berdoa, lalu berkata aku sudah berdoa tapi tidak diberi, atau aku telah berdoa tapi tidak dikabulkan"
 
Begitulah, betapa cinta dan kasih sayang Allah terhadap kita. Bukan karena Allah tidak mau memberi permintaan kita, tetapi Allah akan menyimpankannya untuk kita di hari Kiamat kelak. Itulah doa-doa orang-orang solihin, orang-orang yang taat kepada Allah SWT.
 
Memintalah kepada Allah. Berdoalah kepada Allah. Tetapi dalam waktu yang sama kita juga berusaha bersungguh-sungguh untuk memenuhi perintah-perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.
Seorang ulama yang bernama Ibrahim bin Adham , ketika ditanya tentang mengapa do'a tidak dikabulkan, beliau menjawab:
  • Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu tidak menunaikan hak-hak Allah. Kamu kenal Allah tetapi tidak memenuhi hak-hakNya yaitu untuk disembah.
  • Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu tidak mengamalkan isi Al-Quran. Kamu senantiasa membaca Al-Quran tapi tidak kamu amalkan isi-isinya.
  • Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu tidak mengamalkan sunnah Rasulullah. Kamu selalu bilang cinta kepada Rasulullah tapi kamu meninggalkan sunnahnya.
  • Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu patuh kepada syaitan. Kamu mengakui bahwa syetan itu musuh kamu tetapi kamu patuhi dia.
  • Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu mencampakkan diri kamu ke jurang kebinasaan. Kamu selalu berdoa supaya terhindar dari api neraka tapi kamu lemparkan dirimu sendiri ke dalamnya.
  • Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, kamu ingin memasuki surga tapi kamu tidak melakukan amal soleh.
  • Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu sedar kamu akan mati tetapi kamu tidak bersiap-siap untuk menghadapinya.
  • Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu melihat cacat dan kekurangan orang lain, tetapi cacat dan kekurangan dirimu kamu tidak pernah melihatnya. Kamu sibuk memikirkan kesalahan dan keburukan orang lain sedangkan keburukan dan kesalahan dirimu sendiri tidak pernah kau hiraukan.
  • Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu merasakan kenikmatan yang diberikan Allah tetapi kamu tidak bersyukur, bersyukur dengan mematuhi segala perintah Allah.
  • Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu menguburkan jenazah orang lain tapi tidak menginsafi diri kamu sendiri bahwa kelak kamu juga akan dikuburkan.
Marilah kita menjadi orang-orang yang sentiasa melakukan perintah Allah.Marilah kita bertekad tidak mengulangi segala perbuatan buruk kita.
Insya Allah, segala doa kita akan diterima oleh Allah SWT. Firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah, ayat ayat 186: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran."

Semoga Bermanfaat ...!!!

Minggu, 11 Maret 2012

AKIBAT SERING MENGGUNJING SESAMA


Renungan. Pada suatu hari seorang laki-laki ditinggal mati oleh saudara perempuannya. Ketika ia ikut menguburkan jenazah saudaranya, tanpa sengaja emas di dalam kantongnya jatuh di dalam kuburan saudaranya. Setelah penguburan selesai, ia baru menyadari bahwa emas yang dibawanya telah jatuh. Setelah dicari-cari tidak ketemu juga, akhirnya ia ingin menggali kuburan itu kembali. Barangkali emas itu ada di sana. Bukan hanya karena emas itu barang mahal, tetapi orang yang meninggal tidak boleh membawa apa-apa selain kafan yang dipakainya. Akhirnya bulatlah tekadnya untuk menggali kuburan itu.

Pada malam harinya laki-laki itu melaksanakan niatnya. Namun, alangkah terkejutnya ia karena ternyata di dalam kubur kakaknya penuh dengan api yang menyala-nyala. Lalu ia segera menutup kubur kakaknya. Dengan perasaan sedih ia pulang. Sesampainya di rumah ia bertanya, "Bu, perbuatan mungkar apa yang telah dilakukan oleh kakakku?".

"Aku tidak pernah melihat ia berbuat mungkar. Hanya saja, ia suka keluar malam dan mencuri dengar pembicaraan tetangga. Lalu ia tidur malam dengan berita yang didapatnya dan keesokan harinya ia ceritakan kepada orang lain. Demikian perbuatan mungkar yang selalu dia lakukan."

Wahai...saudaraku, coba renungkan cerita di atas. Betapa berat siksa bagi orang-orang yang suka menggunjing sesamanya. Bukankah Allah SWT telah mengingatkan kita:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. Al Hujurat : 12)

Begitu hinanya orang menggunjing sampai diibaratkan seperti orang yang memakan bangkai saudaranya yang telah meninggal. Rasulullah SAW menyampaikan:

“Tahukah kalian apa yang dimaksud dengan menggunjing?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Engkau menceritakan saudaramu tentang sesuatu yang ia benci.” Dikatakan, “Bagaimana pendapatmu apabila apa yang aku katakan memang ada pada dirinya?” Beliau menjawab, “Apabila apa yang kamu katakan itu memang ada pada dirinya berarti engkau telah menggunjingnya dan apabila apa yang katakan itu tidak benar berarti kamu telah memfitnahnya,” (HR. Muslim)
 
Untuk itu wahai saudaraku, sebelum kita menilai seseorang dan membicarakannya, marilah kita intropeksi diri kita agar kita tidak terjerumus pada perbuatan menggunjing yang sangat dibenci Allah SWT dan selama kita bisa menjaga hati dan lisan kita tentunya keselamatan akan menghampiri diri. Wallahu A'lam Bissawab.

Semoga Bermanfaat !!!

 

Minggu, 29 Januari 2012

SYAIR UNTUK PERENUNGAN DIRI !!!

Renungan. Inilah syair yang membuat Imam Ahmad Bin Hanbal Ra menangis. Coba kita renungkan, dan jadikan musahabah diri sehingga kita menjadi orang-orang yang beruntung.

Jika Tuhanku bertanya padaku...
Tidak malukah kau bermaksiat kepadaKu???
Kau sembunyikan dosamu dari makhlukKu...
Dan datang padaKu dengan penuh dosa
Bagaimana aku hendak menjawab wahai diriku yang malang ???
Dan siapakah yang dapat menyelamatkan aku ???

Aku terus menyuap diriku dengan impian
dan harapan dari masa ke masa
dan aku melupakan apa yang bakal kuhadapi setelah mati
dan apa yang berlaku selepas aku dikafankan
Seolah-olah aku menjamin aku hidup untuk selamanya
dan seakan kematian tidak akan menjemputku

Dan ketika telah datang sakaratul maut yang mengerikan
Siapa yang dapat melindungiku
Aku melihat banyak wajah-wajah mengiringiku..
apakah ada di antara mereka yang menebusku...

Akan dipertanyakan apa yang telah aku lakukan di dunia ini
untuk menyelematkan diri nanti???
Maka bagaimana aku akan menjawab setelah aku melalaikan urusan agamaku ???
Celakalah aku..!!!
Apakah aku tak mendengar ayat-ayat Allah yang menyeruku???
Adakah aku ta mendengar hari dikumpulkan manusia di hari kiamat kelak???
Adakah aku tak mendengar seruan ajal maut dan maut menjemputku???

Maka, Yaa Rabb...
Seorang hamba bertaubat, maka siapa yang dapat menolongnya???
Melainkan Tuhan Yang Maha Luas PengampunanNya
Dan membimbingku dalam kebenaran
Aku telah datang padaMu, maka kasihanilah aku
Dan beratkan timbangan kebaikanku
Dan ringankanlah hisabku, karena Engkaulah yang terbaik dalam penghisabanku
Amiiin Yaa Robbal 'Alamin

Kamis, 26 Januari 2012

SAMPAI DIMANAKAH BAKTI KITA KEPADA KEDUA ORANG TUA KITA???

Renungan. Pada suatu hari seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, "Aku mempunyai seorang ibu. Aku sudah menafkahinya tetapi ia masih saja menyakitiku dengan lisannya. Apa yang harus aku perbuat?".

"Tunaikanlah haknya. Demi Allah jikalau kamu potong dagingmu, niscaya kamu belum bisa menunaikan seperempat dari haknya. Tidak tahukah kamu bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu?". Laki-laki itu terdiam tidak berkata apapun. Lalu ia berkata, "Demi Allah aku tidak akan berkata sepatah katapun kepadanya." Lalu laki-laki itu pulang dan mencium kedua kaki ibunya seraya berkata," Ibu, inilah yang diperintahkan Rasulullah SAW kepadaku."

Demikianlah Rasulullah memerintahkan kita berbuat baik kepada Ibu kita. Rasulullah SAW juga bersabda, "Demi Zat yang mengutusku dengan kebenaran sebagai Nabi, tak seorangpun yang diberi rizki olaeh Allah SWT, lalu ia berbakti kepada orang tuanya melainkan ia bersamaku di surga. Salah seorang sahabat bertanya,"Wahai Rasulullah, bagaimana seandainya ia sudah tidak memiliki orang tua di dunia, apa yang harus dilakukannya?"

Ia bersedekah makanan, membaca Al Qur'an, dan memintakan ampun untuk kedua orang tuanya. Jika ia meninggalkan amalan ini, maka ia telah berbuat durhaka kepada keduanya dan jika ia durhaka, maka ia telah berbuat maksiat." Beliau bersabda," Tidaklah seorang umatku yang sholat fardu dan mohon ampun untuk kedua orang tuanya, doanya tidak akan ditolak dan diampuni dosanya karena doa untuk kedua orang tuanya itu. Meskipun kedua orang tuanya itu termasuk orang-orang yang fasik."

Pertanyaannya...Sejauh manakah bakti kita kepada orang tua kita??? Mari kita sayangi orang tua kita yang masih hidup, berbaktilah dan hargailah mereka, maka Insyaallah hidup kita akan barokah baik di dunia maupun di akhirat. Renungkanlah Firman Allah SWT di bawah ini:

Allah telah menetapkan agar kalian tidak beribadah melainkan kepada-Nya; dan hendaklah kalian berbakti kepada kedua orang tua.” (Al-Israa : 23)

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, “Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Al-Israa : 24)

Rabu, 25 Januari 2012

SEPULUH KEBURUKAN MINUMAN KERAS (KHAMR)

Renungan. Abu Laits berkata, " Janganlah kalian sekali-kali minum-minuman keras karena minuman keras itu mengandung sepuluh keburukan. Pertama, orang yang minum minuman keras itu seperti orang gila. Ia akan dijadikan bahan tertawaan anak-anak dan akan dicela oleh orang-orang berakal.

Kedua, orang yang minum minuman keras itu akan rusak akal sehatnya dan menghabiskan harta benda yang banyak. Ketiga, meminum minuman keras hanya akan menimbulkan permusuhan antara saudara dan sahabat.

Keempat, orang yang minum minuman keras akan terhalang dari mengingat Allah SWT dan dari mengerjakan sholat. Kelima, minum minuman keras itu akan menyebabkan seseorang terperosok ke dalam perzinaan. Orang yang minum minuman keras bisa saja menceraikan istrinya tanpa sadar dan setelah itu menyetubuhinya.

Keenam, minum minuman keras adalah kunci perbuatan jahat, karena orang yang minum minuman keras bisa melakukan perbuatan jahat. Ketujuh, minum minuman keras dapat merusak kecerdasan karena ia suka duduk di majlis kefasikan.

Kedelapan, orang yang minum minuman keras wajid dijilid (hukum cambuk/pukul) sebanyak delapan puluh kaliu, bila belum menjalani di dunia, maka pasti Allah SWT akan mencambuk dia di akhirat dengan cambuk dari api neraka dan disaksikan nenek moyang beserta sahabat-sahabatnya.

Kesembilan, pintu langit tertutup bagi orang yang minum minuman keras karena kebaikan orang yang minum minuman keras tidak diterima di sisi Allah SWT dan doanya tidak akan dikabulkan selama empat puluh hari. Kesepuluh, orang yang minum minuman keras dikhawatirkan mati dengan tidak membawa iman. Demikianlah dampak dari minum minuman keras di dunia. Adapun siksaan di kubur dan di akhirat tentunya lebih pedih dan menyakitkan. Maka ingatlah firman Allah SWT dalam Al Qur'anul Karim:

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, judi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan merupakan perbuatan syetan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu memperoleh keberuntungan. Sesungguhnya syetan itu hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran khamr dan berjudi itu, dan hendak menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu.” (QS.Al Maidah: 90-91)

SEBERAPAKAH BAIKKAH KITA MENJAGA HATI DAN LIDAH KITA???

Renungan. Pada suatu hari Lukmanul Hakim diminta untuk menyembelih seekor kambing. Perintah itupun dilaksanakan dengan baik. Setelah kambing disembelih, ia diminta untuk memberikan daging yang paling baik dari kambing itu. Lukman memberikan lidah dan hati kambing itu.

Pada kesempatan yang lain Lukmanul Hakim diminta menyembelih kambing lagi. Kali ini ia diminta memberikan bagian daging yang paling buruk. Seperti sebelumnya, iapun memberikan lidah dan hati kambing. Orang-orang menjadi heran dan bertanya, "Tuan, anda diminta menyembelih seekor kambing dan memberikan bagian yang terbaik, lalu Anda memberikan lidah dan hati kambing. Pada kesempatan yang lain Anda diminta menyembelih kambing dan memberikan bagian yang paling buruk, Anda menyerahkan lidah dan hatinya. Apa maksudnya?"

Lukmanul Hakim menjawab," Demikianlah, lidah dan hati adalah bagian yang terbaik dan sekaligus bagian terburuk. Jika seseorang bersifat baik, pastilah hati dan lidahnya yang paling baik. Namun, jika seseorang berwatak buruk, pastilah hati dan lidahnya yang paling buruk!".

Coba kita renungkan apa yang disampaikan Lukmanul Hakim di atas. Setiap manusia dianugerahi Allah SWT hati dan lidah. Pertanyaannya: Sejauh mana kita bisa menjaga hati dan lidah kita dari perbuatan yang dilarang Allah SWT?. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa kebanyakan anak cucu Adam terjerumus dalam dosa karena tidak bisa menjaga lidahnya.

Dalam hadis lain dijelaskan : "Ingatlah bahwa dalam jasad ada segumpal daging jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati"

Seperti dikatakan Rasullulah dalam sebuah Hadits. "Hati itu ada empat, yaitu hati yang bersih, di dalamnya ada pelita yang bersinar. Maka, itulah hati orang mukmin. Hati yang hitam lagi terbalik, maka itu adalah hati orang kafir. Hati yang tertutup yang terikat tutupnya, maka itu adalah hati orang munafik, serta hati yang dilapis yang di dalamnya ada iman dan nifak." (HR. Ahmad dan Thabrani).
 
Hati adalah cermin pribadi setiap manusia. Lalu, cermin model manakah yang kita miliki dalam hati kita? Apakah hati kita bersih laksana cermin yang berkilau sehingga manantulkan perbuatan yang baik, ataukah malah kotor dan buram yang membuat kita selalu buruk? Hal ini sepertinya tergantung bagaimana kita merawat cermin hati yang kita miliki. Bila kita selalu menjaga hati agar selalu bersih dan bening, maka cerminan perbuatan yang muncul pun akan selalu baik dan benar. Sebaliknya, kalau selalu membiarkan cermin hati kita kotor, dengan hiasan perbuatan buruk kita, maka pantulan kaca hati kita pun menjadi buram.
Wallahu A'lam Bissahawab ..!

Kamis, 19 Januari 2012

MANFAATKANLAH LIMA HAL SEBELUM LIMA HAL

Renungan. Allah SWT  menganugerahkan kita banyak hal dalam hidup kita, termasuk saat ini, ketika anda membaca tulisan ini, Allah SWT dengan sifat Rohman RohimNya masih memberikan kita semua nafas dan kesempatan. Sesuatu yang luar biasa yang tidak bisa digantikan oleh apapun, termasuk dunia. Begitu pentingnya masa ini, sampai-sampai Allah SWT bersumpah dalam salah satu firmanNya:
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran" (QS. Al Ashr: 1-3)

Dalam surat ini Allah SWT bersumpah demi masa karena masa adalah sesuatu yang sangat berharga dan penting. Di mana letak pentingnya masa? Masa terus berjalan tidak pernah berhenti, walaupun sesaat. Kita tidak bisa mengulang waktu yang telah berlalu, jangankan sepuluh tahun, sedetikpun kita tidak bisa. Begitu berharganya masa ini, Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sabdanya:
"Manfaatkanlah lima hal sebelum datangnya lima: Masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa fakirmu, masa hidupmu sebelum matimu, masa senggangmu sebelum masa sempitmu" (HR. Al Hakim)

Dalam hadist lain beliau juga bersabda: " Laksanakanlah amal saleh karena tujuh hal: sebelum datangnya kemiskinan yang membuatmu lupa, kekayaan yang menyesatkan, penyakit yang membinasakan, ketuaan yang melumpuhkan, kematian yang mendadak, dajal sebagai makhluk terjahat yang selalu mengintai dan hari kiamat yang sangat pahit dan mengerikan". (HR. Tirmidzi)


Masa muda, masa sehat, masa kaya, masa hidup, dan masa senggang adalah masa-masa yang sering membuat manusia lalai. Banyak manusia yang tidak memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Sehingga penyesalanlah yang selalu membayangi mereka di masa-masa selanjutnya. Bukankah dalam surat Al Ashr Allah SWT telah mengingatkan kita tentang banyaknya manusia yang lalai dan dikatakan sebagai orang merugi. Hanya sebagian saja yang dikatakan orang yang beruntung. Siapa mereka?Yaitu orang beriman yang melakukan amal saleh, menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Pertanyaannya, Kita termasuk golongan yang mana?Orang merugi atau orang beruntung?tentunya kita yang bisa menjawabnya. Kalau kita mengaku sebagai orang beruntung, sudahkah kita beriman dan beramal saleh, menasehati dalam kebenaran dan kesabaran?Ataukah kita golongan merugi, yakni mereka-mereka yang melalaikan kesempatan yang diberikan Allah SWT?. Wallahu A'lam Bis shawab.

Rabu, 11 Januari 2012

SEBERAPAKAH NILAI SYUKUR KITA KEPADA IBU?

Renungan. Alkisah seorang Ibu tua duduk di taman rumahnya. Dilihatnya seekor burung bertengger di salah satu ranting pohon. Dia panggil putrinya yang sedang membaca majalah di teras rumah, dan beliau bertanya: "Nak...itu namanya burung apa?", Sang putri menjawab, "Burung kutilang, bu?". Sang ibu menganngguk. Kembalilah putri wanita tersebut ke teras rumah dan asyik membaca majalah. Dilihat lagi burung yang tadi bertengger di ranting bunga di depannya, dia panggil lagi putrinya, dan bertanya: "Nak,...itu burung apa namanya?", Si Anak menjawab, "Burung kutilang bu, tadi khan sudah saya beritahu". Si Ibu mengangguk. Kembalillah Si Anak tadi ke teras untuk membaca majalahnya. Setelah sekian menit, Si Ibu memanggil putrinya, dan bertanya, "Nak...itu namanya burung apa?" Si Anak dengan jengkel dan setengah membentak menjawab,"Ibu ini gimana sih, tadi khan sudah saya beritahu, namanya burung kutilang".

Sang Ibu meneteskan air mata mendengar bentakan anaknya. Dia masuk ke dalam rumah dan mengambil sebuah album kenangan keluarga. Dia bawa buku itu ke putrinya dan ditunjukkan foto masa kecil anaknya, di keterangan foto kenangan itu tertulis: "Hari ini aku dan putriku bermain di taman, dilihat oleh putriku seekor kupu-kupu hinggap di bunga, dia bertanya,"Bu...itu namanya apa?" Akupun menjawab "Kupu-kupu, nak!", Dia ulangi pertanyaan itu berkali-kali sampai 30x, dengan sabar aku menjawabnya". Melihat album kenangan itu, tanpa terasa air matanya menetes...dia merasa berdosa telah membentak-bentak ibunya, padahal ketika dirinya kecil, ibunya dengan sabar menjawab setiap pertanyaannya.

Yah...itulah sekilas gambaran tentang kasih sayang seorang ibu, sering kita melupakan perjuangan ibu kita ketika kita masih kecil. Ketika kita sudah menjadi orang dewasa atau sukses, kita sering melupakan jasa-jasa beliau. Bukankan beliau merawat kita dengan penuh kasih sayang tanpa pernah mengeluh sedikitpun?tapi, ketika kita yang disuruh sekali saja, maka yang sering keluar dari mulut kita adalah bentakan, umpatan, dan keluhan...Renungkanlah: Betapa kita ini adalah  anak-anak yang tidak tahu terima kasih kepada orang tua kita!. Bukankah Allah SWT telah mengingatkan kita:

" Hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (QS. Al Isra': 23-24)

KISAH SEORANG AYAH, ANAK, DAN KELEDAI TUNGGANGAN

Renungan. Ada sebuah kisah di mana seorang ayah dan anaknya akan pergi ke kampung sebelah. Mereka membawa tunggangan seekor keledai. Saat berangkat dari rumah, karena hanya membawa seekor keledai, Si Ayah menyuruh anaknya untuk menuntun keledainya, saat melewati kerumunan orang di pasar, ada yang nyeletuk, "Dasar orang tua tidak punya kasian, dia enak-enakan naik keledai, anaknya disuruh jalan kaki". Demi mendengar itu si ayah turun.

Maka, si anak disuruh naik keledai, dan ayahnya menuntun keledai itu. Baru setengah perjalanan, mereka melewati sekumpulan orang. Maka terdengar lagi orang nyeletuk, "Wah...anak nggak punya sopan santun, dia enak-enakan naik keledai, ayahnya disuruh menuntun!". Karena mendengar omongan seperti itu, maka turunlah si anak. Ayahnya bilang," Sudah kita naik bareng saja!".

Maka mereka naik keledai bersama-sama, ternyata ketika mereka bertemu orang lagi, mereka disindir," Dasar nggak punya perasaan, masak keledai kecil begitu dinaiki berdua, apa nggak kasian?". Akhirnya mereka turun, dan melanjutkan perjalanan tanpa menaiki keledai itu, belum juga kesal diomongkan orang hilang, ada oranng menyindir lagi, "Dasar orang bodoh, ada kendaraan kok nggak dipakai, malah jalan kaki!".

Maka berhentilah mereka di pinggir sungai, dan dilepaskanlah keledai itu. Sambil duduk istirahat di pinggir sungai, Si Ayah berkata pada anaknya," Anakku pelajaran apa yang kamu dapat hari ini?", Si Anak bingung, Dia menjawab,"Aku tidak tahu ayah, setahu mulai tadi kita disalahkan terus sama orang-orang, betul begitu ayah?".

Dengan bijaksana Si Ayah berkata,"Ya..begitulah hidup anakku, manusia itu hanya bisa menilai dan mengkritik, padahal hal itu tidak ada manfaatnya bagi mereka. Kalaulah kita menuruti setiap omongan manusia, maka selamanya kita tidak akan bisa benar, karena pendapat setiap orang berbeda dan relatif, kita harus punya pendirian dan prinsip, selama kita tidak merugikan orang lain, dan tidak melanggar syariat Allah SWT dan RasulNya, maka jalankanlah."

Kadang kita sering menghadapi hal semacam itu, ketika kita melakukan suatu hal ataupun banyak orang yang mendukung dan tidak jarang yang menjatuhkan kita dengan omongan dan sindiran-sindirannya. Sebagai seorang muslim, kita harus yakin selama perbutan kita tidak merugikan orang lain dan tidak melanggar syariat, maka Allah SWT pasti menolong kita. Janganlah berbuat sesuatu karena manusia, tapi berbuatlah segala sesuatu itu karena Allah SWT. Apabila kita selalu terpaku pada pendapat manusia, bukan karena Allah SWT dan RasulNya, maka kehancuran yang akan menimpa hidup kita. Wallahu A'lam Bisshawab

Minggu, 22 Mei 2011

BANDINGKAN CINTA ANDA DAN CINTA ALLAH SWT

Cinta adalah memberi, dengan segala daya dan keterbatasannya seorang pecinta akan memberikan apapun yang sekiranya bakal membuat yang dicintainya senang. Bukan balasan cinta yang diharapkan bagi seorang pecinta sejati, meski itu menjadi sesuatu yang melegakannya. Bagi pecinta sejati, senyum dan kebahagiaan yang dicintainya itulah yang menjadi tujuannya. 

Cinta adalah menceriakan, seperti bunga-bunga indah di taman yang membawa kenyamanan bagi yang memandangnya. Seperti rerumputan hijau di padang luas yang kehadirannya bagai kesegaran yang menghampar. Seperti taburan pasir di pantai yang menghantarkan kehangatan seiring tiupan angin yang menawarkan kesejukkan. Dan seperti keelokan seluruh alam yang menghadirkan kekaguman terhadapnya. 

Cinta adalah berkorban, bagai lilin yang setia menerangi dengan setitik nyalanya meski tubuhnya habis terbakar. Hingga titik terakhirnya, ia pun masih berusaha menerangi manusia dari kegelapan. Bagai sang Mentari, meski terkadang dikeluhkan karena sengatannya, namun senantiasa mengunjungi alam dan segenap makhluk dengan sinarannya. Seperti Bandung Bondowoso yang tak tanggung-tanggung membangunkan seluruh jin dari tidurnya dan menegakkan seribu candi untuk Lorojonggrang seorang. Sakuriang tak kalah dahsyatnya, diukirnya tanah menjadi sebuah telaga dengan perahu yang megah dalam semalam demi Dayang Sumbi terkasih yang ternyata ibu sendiri. Tajmahal yang indah di India, di setiap jengkal marmer bangunannya terpahat nama kekasih buah hati sang raja juga terbangun karena cinta. Bisa jadi, semua kisah besar dunia, berawal dari cinta. 

Cinta adalah kaki-kaki yang melangkah membangun samudera kebaikan. Cinta adalah tangan-tangan yang merajut hamparan permadani kasih sayang. Cinta adalah hati yang selalu berharap dan mewujudkan dunia dan kehidupan yang lebih baik. Cinta selalu berkembang, ia seperti udara yang mengisi ruang kosong. Cinta juga seperti air yang mengalir ke dataran yang lebih rendah. 

Tapi ada satu yang bisa kita sepakati bersama tentang cinta. Bahwa cinta, akan membawa sesuatu menjadi lebih baik, membawa kita untuk berbuat lebih sempurna. Mengajarkan pada kita betapa, besar kekuatan yang dihasilkannya. Cinta membuat dunia yang penat dan bising ini terasa indah, paling tidak bisa kita nikmati dengan cinta. Cinta mengajarkan pada kita, bagaimana caranya harus berlaku jujur dan berkorban, berjuang dan menerima, memberi dan mempertahankan. 

Tentang Cinta itu sendiri, Rasulullah dalam sabdanya menegaskan bahwa tidak beriman seseorang sebelum Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada selain keduanya. Al Ghazali berkata: "Cinta adalah inti keberagamaan. Ia adalah awal dan juga akhir dari perjalanan kita. Kalaupun ada maqam yang harus dilewati seorang sufi sebelum cinta, maqam itu hanyalah pengantar ke arah cinta dan bila ada maqam-maqam sesudah cinta, maqam itu hanyalah akibat dari cinta saja." 

Disatu sisi Allah Sang Pencinta sejati menegaskan, jika manusia-manusia tak lagi menginginkan cinta-Nya, kelak akan didatangkan-Nya suatu kaum yang Dia mencintainya dan mereka mencintai-Nya (QS. Al Maidah:54). Maka, berangkat dari rasa saling mencintai yang demikian itu, bandingkanlah cinta yang sudah kita berikan kepada Allah dengan cinta Dia kepada kita dan semua makhluk-Nya. 

Wujud cinta-Nya hingga saat ini senantiasa tercurah kepada kita, Dia melayani seluruh keperluan kita seakan-akan Dia tidak mempunyai hamba selain kita, seakan-akan tidak ada lagi hamba yang diurus kecuali kita. Tuhan melayani kita seakan-akan kitalah satu-satunya hamba-Nya. Sementara kita menyembah-Nya seakan-akan ada tuhan selain Dia. 

Apakah balasan yang kita berikan sebagai imbalan dari Cinta yang Dia berikan? Kita membantah Allah seakan-akan ada Tuhan lain yang kepada-Nya kita bisa melarikan diri. Sehingga kalau kita "dipecat" menjadi makhluk-Nya, kita bisa pindah kepada Tuhan yang lain. 

Tahukah, jika saja Dia memperhitungkan cinta-Nya dengan cinta yang kita berikan untuk kemudian menjadi pertimbangan bagi-Nya akan siapa-siapa yang tetap bersama-Nya di surga kelak, tentu semua kita akan masuk neraka. Jika Dia membalas kita dengan balasan yang setimpal, celakalah kita. Bila Allah membalas amal kita dengan keadilan-Nya, kita semua akan celaka. Jadi, sekali lagi bandingkan cinta kita dengan cinta-Nya. Wallahu a'lam bishshowaab.


ANTARA MATA DAN HATI

Mata adalah penuntun, dan hati adalah pendorong dan penuntut. Mata memiliki kenikmatan pandangan dan hati memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya merupakan sekutu yang mesra dalam setiap tindakan dan amal perbuatan manusia, dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain.
Ketika seseorang memiliki niat untuk melakukan sesuatu yang muncul dari dalam hati, maka dia memerlukan mata sebagai penuntunnya. Untuk melihat, mengamati, dan kemudian otak ikut bekerja untuk mengambil keputusan.

Bila seseorang memiliki niat untuk melakukan amal yang baik, maka mata menuntunnya kearah yang baik pula. Dan bila seseorang berniat melakukan suatu perbuatan yang tidak baik, maka mata akan menuntunnya kearah yang tidak baik pula. 

Sebaliknya bisa pula terjadi, ketika mata melihat sesuatu yang menarik, lalu melahirkan niatan untuk memperoleh kenikmatan dari hal yang dilihatnya, maka hati akan mendorong mata untuk menjelajah lebih jauh lagi, agar dia memperoleh kepuasan dalam memandangnya. Sehingga Allah SWT memberikan kepada kita semua rambu-rambu yang sangat antisipatif, yaitu perintah untuk menundukkan pandangan: "Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".
"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya." (QS. An Nuur: 30-31)

Demikianlah hal yang terjadi, sehingga ketika manusia terpuruk dalam kesesatan, maka terjadilah dialog antara mata dan hati, seperti yang dituturkan oleh seorang ulama besar Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dalam bukunya "Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu".

Hati berkata kepada Mata
Kaulah yang telah menyeretku kepada kebinasaan dan mengakibatkan penyesalan karena aku mengikutimu beberapa saat saja. Kau lemparkan kerlingan matamu ke taman itu, kau mencari kesembuhan dari kebun yang tidak sehat, kau salahi firman Allah, "Hendaklah mereka menahan pandangannya", kau salahi sabda Rasulullah Saw, "Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah Iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah Azza wa Jalla, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya, yang akan didapati kelezatannya di dalam hatinya". (H.R. Ahmad)

Sanggahan Mata terhadap Hati
Kau zhalimi aku sejak awal hingga akhir. Kau kukuhkan dosaku lahir dan batin. Padahal aku hanyalah utusanmu yang selalu taat dan penuntun yang menunjukkan jalan kepadamu. Engkau adalah raja yang ditaati. Sedangkan kami hanyalah rakyat dan pengikut. Untuk memenuhi kebutuhanmu, kau naikkan aku ke atas kuda yang binal, disertai ancaman dan peringatan. Jika kau suruh aku untuk menutup pintuku dan menjulurkan hijabku, dengan senang hati akan kuturuti perintah itu. Jika engkau memaksakan diri untuk menggembala di kebun yang dipagari dan engkau mengirimku untuk berburu di tempat yang dipasangi jebakan, tentu engkau akan menjadi tawanan yang sebelumnya engkau adalah seorang pemimpin, engkau menjadi buidak yang sebelumnya engkau adalah tuan. Yang demikian itu karena pemimpin manusia dan hakim yang paling adil, Rasulullah Saw, telah membuat keputusan bagiku atas dirimu, dengan bersabda: "Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal darah. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik pula, dan jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal darah itu adalah hati." (H.R. Bukhori Muslim dan lainnya).
Abu Hurairah Ra. Berkata, "Hati adalah raja dan seluruh anggota tubuh adalah pasukannya. Jika rajanya baik, maka baik pula pasukannya. Jika raja buruk, buruk pula pasukannya". Jika engkau dianugerahi pandangan, tentu engkau tahu bahwa rusaknya para pengikutmu adalah karena kerusakan dirimu, dan kebaikan mereka adalah karena kebaikanmu. Jika engkau rusak, rusak pula para pengikutmu. Lalu engkau lemparkan kesalahanmu kepada mata yang tak berdaya. Sumber bencana yang menimpamu adalah karena engkau tidak memiliki cinta kepada Allah, tidak menyukai dzikir kepada-Nya, tidak menyukai firman, ‘asma dan sifat-sifat-Nya. Engkau beralih kepada yang lain dan berpaling dari-Nya. Engkau berganti mencintai selain-Nya.
Demikianlah, mata dan hati, sepasang sekutu yang sangat serasi. Bila mata digunakan dengan baik, dan hati dikendalikan dengan keimanan kepada Allah SWT, maka kerusakan dan kemungkaran dimuka bumi ini tak akan terjadi. Namun bila yang terjadi adalah sebaliknya, maka kerusakan dan bala bencanalah yang senantiasa menyapa kita.

Robb, bimbinglah kami, agar kami mampu mengendalikan hati kami dengan keimanan kepada-Mu, mengutamakan cinta kepada-Mu, dan tidak pernah berpaling dari-Mu.
Allaahumma ‘aafinii fii badanii, Allaahumma ‘aafiniifii sam’ii, Allaahumma ‘aafinii fii bashorii. Aamiin.
Ya Allah, sehatkanlah badanku, sehatkanlah pendengaranku, sehatkanlah penglihatanku

AIR MATA RASULULLLAH MUHAMMAD SAW

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.
"Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum --peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."
Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik alaaa wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Rabu, 23 Februari 2011

MUTIARA HIKMAH SYEKH ABDUL QODIR JAELANI

Ikutilah (Sunnah Rasul) dengan penuh keimanan, jangan membuat bid'ah, patuhilah selalu kepada Allah dan Rasul-Nya, jangan melanggar; junjung tinggilah tauhid dan jangan menyekutukan Dia; sucikanlah Dia senantiasa dan jangan menisbahkan sesuatu keburukan pun kepada-Nya. Pertahankan Kebenaran-Nya dan jangan ragu sedikit pun. Bersabarlah selalu dan jangan menunjukkan ketidaksabaran. Beristiqomahlah; berharaplah kepada-Nya, jangan kesal, tetapi bersabarlah. Bekerjasamalah dalam ketaatan dan jangan berpecah-belah. Saling mencintailah dan jangan saling mendendam. Jauhilah kejahatan dan jangan ternoda olehnya. Percantiklah dirimu dengan ketaatan kepada Tuhanmu; jangan menjauh dari pintu-pintu Tuhanmu; jangan berpaling dari-Nya.
Segeralah bertaubat dan kembali kepada-Nya. Jangan merasa jemu dalam memohon ampunan kepada Khaliqmu, baik siang mahupun malam; (jika kamu berlaku begini) niscaya rahmat dinampakkan kepadamu, maka kamu bahagia, terjauhkan dari api neraka dan hidup bahagia di syurga, bertemu Allah, menikmati rahmat-Nya, bersama-sama bidadari di syurga dan tinggal di dalamnya untuk selamanya; mengendarai kuda-kuda putih, bersuka ria dengan hurhur bermata putih dan aneka aroma, dan melodi-melodi hamba-hamba sahaya wanita, dengan kurnia-kurnia lainnya; termuliakan bersama para nabi, para shiddiq, para syahid, dan para shaleh di syurga yang tinggi. (Sumber: Kitab Futuuhul Ghaib)

ENAM PERSOALAN DALAM HIDUP

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya.Lalu Imam Al Ghozali bertanya
Pertama,"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?".
Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "Mati".Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Ali Imran 185):
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan". (QS. 3:185)

Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua. "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?".

Murid-muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah masa lalu. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.
Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?".
Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Semua jawaban itu benar kata ImamGhozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "Nafsu" (Al A'Raf 179):
"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai". (QS. 7:179)
Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.
Pertanyaan keempat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?".
Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawaban sampean benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah "memegang AMANAH" (Al Ahzab 72).
"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh," (QS. 33:72)
Tumbuh-tumbuhan, binatang,gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.

Pertanyaan yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini?".
Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan Solat. Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan sholat, gara-gara meeting kita tinggalkan solat.
Lantas pertanyaan ke enam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?".
Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang... Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah "lidah manusia". Karena melalui lidah, Manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri